Kamis, 04 Januari 2018

Tugas Makalah Prasangka, Diskriminasi, dan Etnosentrisme sebagai Penghambat Pembangunan di Indonesia

Makalah Prasangka, Diskriminasi, dan Etnosentrisme sebagai Penghambat Pembangunan di Indonesia

Universitas Gunadarma

Oleh :
Muhammad Alfiannur Ma'ruf

Dosen :
EMILIANSHAH BANOWO, S.SOS.,MM

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat yang diberikan-Nya sehingga tugas Makalah yang berjudul “Prasangka, Diskriminasi dan Etnosentris sebagai Penghambat Pembangunan di Indonesia” ini dapat  saya selesaikan. Makalah ini saya buat sebagai kewajiban untuk memenuhi tugas.
Dalam kesempatan ini, saya mengucapkan terimakasih banyak terhadap semua pihak yang telah membantu menyumbangkan ide dan pikiran mereka demi terwujudnya makalah ini. Akhir kata, saran dan kritik pembaca yang dimaksud untuk mewujudkan kesempurnaan makalah ini sangat saya hargai.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
                                                                                                            Depok, 01 Januari 2018

                                                                                                                        Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri atas berbagai suku  bangsa,adat istiadat, bahasa daerah,serta agama yang berbeda beda. Keanekaragaman tersebut terdapat di berbagai wilayah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai kebiasaan hidup yang berbeda beda. Kebiasaan hidup itu menjadi budaya serta ciri khas suku bangsa tertentu.Keragaman tersebut di satu sisi, kita mengakuinya sebagai khazanah  budaya yang bernilai tinggi. Akan tetapi di sisi lain,ketika dua karakter sosial dan budaya  bertemu, membuat mereka benar-benar menjadi dua suku berbeda, seperti air dan minyak, Banyak pihak juga yang menilai bahwa masyarakat Indonesia saat ini merupakan masyarakat yang senang menduga-duga atau berprasangka.Penilaian itu tentu bukan tanpa dasar.Saat ini masyarakat Indonesia memiliki kecurigaan yang akut terhadap segala sesuatu yang berbeda atau dikenal dengan istilah heterophobia. Segala sesuatu yang baru dan berbeda dari umumnya orang akan ditanggapi dengan penuh kecurigaan termasuk antar suku atau etnis. Kehadiran anggota kelompok yang berbeda apalagi berlawanan akan dicurigai membawa misi-misiyang mengancam. Ada juda yang diskriminatif, dan etnosentrisme.

B.     Rumusan Masalah
1.       Pengertian prasangka dan diskriminasi
2.       Perbedaan prasangka dan diskriminasi
3.       Sebab-sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi
4.       Upaya untuk mengurangi prasangka dan diskriminasi
5.       Pengertian etnosentris

C.     Tujuan Penelitian
1.       Untuk mengetahui pengertian prasangka dan diskriminasi
2.       Untuk mengetahui perbedaan prasangka dan diskriminasi
3.       Untuk mengetahui sebab-sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi
4.       Untuk mengetahui  upaya untuk mengurangi prasangka dan diskriminasi
5.       Untuk mengetahui pengertian etnosentris


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Prasangka
Prasangka adalah sikap yang negatif terhadap sesuatu, seseorang atau kelompok sosial tertentu. Dengan kala lain, seseorang yang memiliki prasangka terhadap kelompok social tertentu cenderung mengevaluasi anggotanya dengan cara yang sama (secara negative) semata karena mereka anggata kelompok tersebut. Trait dan tingkah laku individual mereka memainkan peran yang kecil, mereka (disukai dan tdek disukai) hanya karena mereka termasuk dalam kelompok tertentu. Dan diskriminasi merujuk pada aksi negative terhadap kelompok yang menjadi sasaran prasangka. Misalnya, karena memiliki prasangka buruk, seseorang bahkan meyakini dengan duduk bersama kelompok yang dianggap negatif akan menyebabkan dirinya terkena masalah. Calon pekerja pria juga mungkin akan di evaluasi secara negatif jika ia duduk disebelah seorang wanita gendut, meskipun pelamar pra itu tidak mengenal siapa wnaita itu, dan meskipun nyatanya wanita itu adalah orang yang baik. Prasangka juga  mempengaruhi preferensi tentang kebijkan pubik. Misalnya, Prasangka terhadap kaum gay menyebabkan adanya pembatasan ruang gerak pada pengidap HIV, seperti mewajibkan mereka membawa identitikasi, mengkarantina atau menato mereka
Pembentuk prasangka:
a.       Faktor utama
Faktor utama dalam asal-usul prasangka adalah ketimpangan dalam kondisi social, ekonomi dan budaya kehidupan masyarakat etnis yang berbeda. Mereka muncul sebagai konsekuensi dan pemahaman tidak pernuh atau terbentuk dari objek  dalam kaitannya dengan yang mengatur. Sebagai contohnya ketika orang-orang Islam berkuasa di berbagai bagian pemerintahan, sementara banyak orang-orang Islam yang jahat seperti teroris, dan Berkorupsi sehingga muncul sterotip dan prasangka negatif terhadap semua orang Islam dan sudut pandang agama lain.
b.       Faktor lainnya
Misalkan suatu kejadian/peristiwa historis yang benar-benar membekas, contohnya adalah permusuhan antara Orang Dayak dengan orang Madura akhinya banyak orang yang menilai negatif orang-orang Madura, karena terkait dengan konflik di Sampit Kalimantan
Cara mengatasi Prasangka:
Cara mengatasi Prasangka Sosial antara lain Psikologi Sosial, Baron (2003):
1.       Memutuskan siklus prasangka: belajar tidak membenci karena dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Dengan cara mencegah orang tua dan orang dewasa lannya untuk melatih anak menjadi fanatic
2.       Berinteraksi langsung dengan kelompok berbeda: contact hypothesispandangan, bahwa peningkatan kontak antara anggota dan berbagai kelompok sosisal dapat efektif mengurangi prasangka diantara mereka.

B.     Pengertian Diskriminasi
Diskriminasi ialah perlakuan pembedaan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tak langsung terhadap orang atau kelompok dengan didasarkan pada gender,ras, agama,umur, status sosial, status ekonomi, bahasa, keyakinan politik, atau karakteritik yang lain.
Penyebab timbulnya Diskriminasi
1.       Diskriminasi timbul akibat dari latar belakang sejarah.
2.       Diskriminasi timbul akibat Perkembangan sosio-kultural dan situasional.
3.       Diskriminasi bersumber dari factor kepribadian.
4.       Diskriminasi timbul akibat perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama.
Usaha-usaha mengurangi/menghilangkan diskriminasi
1.       Perbaikan kondisi social ekonomi.
2.       Perluasan kesempatan belajar.
3.       Sikap terbuka dan sikap lapang.
Contoh Kasus Diskriminasi
Seorang anak pengusaha kaya serba di “anak emaskan” di sekolahnya dan serba di dahulukan ketimbang anak seorang yang biasa biasa saja.

C.     Perbedaan Prasangka dan Diskriminasi
Sikap yang negatif terhadap sesuatu, disebut Prasangka. Walaupun dapat kita garis bawahi prasangka dapat juga dalam pengertian positif. Prasangka bersumber dari suatu sikap. Diskriminasi menunjuk kepada suatu tindakan. Dalam pergaulan sehari-hari sikap berprasangka dan diskriminasi seolah-olah menyatu dan tidak dapat dipisahkan.
Seseorang yang mempunyai prasangka rasial biasanya bertindak diskriminasi terhadap yang diprasangkainya. Walaupun begitu, biasa saja seseorang bertindak diskriminatif tanpa latar belakang pada suatu prasangka. Demikian juga sebaliknya, seseorang yang berprasangka dapat saja berperilaku tidak diskriminatif.
Sikap berprasangka jelas tidak adil, sebab sikap yang diambil hanya berdasarkan pada pengalaman atau aoa yang didengar. Lebih-lebih lagi bila sikap berprasangka itu muncul dari jalan fikiran sepintas, untuk kemudian disimpulkan dan dibuat pukul rata sebagai sifat dari seluruh anggota kelompok sosial tertentu.
Sebab - sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi, yaitu :
1)      Latar belakang sejarah
Orang kulit putih di Amerika Serikat berprasangka negatif  terhadap orang negro. Orang kulit putih beranggapan bahwa orang negro adalah budak dan orang berkulit putih adalah Tuan rajanya.
2)      Perkembangan sosio, kultural, dan situasional
Sifat prasangka akan muncul dan berkembang apabila terjadi kesenjangan sosial kepada masyarakt sekitar.
3)      Bersumber dari  faktor kepribadian
Keadaan frustasi dari orang ataupun kelompok sosial tertentu dapat menimbulkan tingkah laku yang cukup agresif. Tipe prasangka lebih dominan disebabkan karena sikap orang itu tersendiri
4)      Perbedaan  keyakinan, kepercayaan dan agama
Prasangka diatas dapat dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal.

Upaya untuk mengurangi / menghilangkan prasangka dan diskriminasi, yaitu :
1)      Perbaikan kondisi sosial ekonomi
Pemerataan pembangunan dan membuka lapangan pekerjaan merupakan cara cukup baik mengurangi angka kemiskinan dan kesenjangan sosial antara masyarakat menengah kebawah dengan menengah keatas
2)      Perluasan kesempatan belajar
Usaha pemerintah untuk melakukan pemerataan kesejahteraan dalam bidang pendidikan sudah dilakukan, misalnya saja dana APBN yang sudah mencapai 20% untuk dunia pendidikan, Wajib Belajar (WAJAR) selama 9 tahu, dll.
3)      Sikap terbuka dan sikap lapang

D.     Etnosentris
Etnosentrisme adalah sikap yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolok ukur untuk menilai kelompok lain.
Apabila tidak dikelola dengan baik, perbedaan budaya dan adat istiadat antarkelompok masyarakat tersebut akan menimbulkan konflik sosial akibat adanya sikap etnosentrisme. Sikap tersebut timbul karena adanya anggapan suatu kelompok masyarakat bahwa mereka memiliki pandangan hidup dan sistem nilai yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya.
Setiap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayan, yang sekaligus menjadi suatu kebanggaan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam kehidupan sehari-hari bertingkah laku sejalan dengan norma - norma, nilai - nilai yang terkandung dan tersirat dalam kebudayan tersebut.
Etnosentrisme ialah suatu kecendrungan yang menganggap nilai - nilai dan norma - norma kebudayaannya sendiri dengan suatu yang prima, terbaik, mutlak dan dipergunakannya sebagai tolak ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.
Etnosentrisme nampaknya merupakan gejala sosial yang universal dan sikap yang demikian biasanya dilakukan secara tidak sadar. Dengan demikian etnosentrisme merupakan kecenderungan tak sadar untuk menginterprestasikan atau menilai kelompok lain dengan tolak ukur kebudayaannya sendiri. Sikap etnosentrisme dalam tingkah laku berkomunikasi nampak canggung, tidak luwes. Akibatnya etnosentrisme penampilan yang etnosentrik, dapat menjadi penyebab utama kesalah pahaman dalam berkomunikasi. Etnosentrisme dapat dianggap sebagai sikap dasar ideologi Chauvinisme pernah dianut oleh orang - orang German pada jaman Nazi Hitler. Mereka merasa dirinya superior, lebih unggul dari bangsa - bangsa lain dan memandang bangsa - bangsa lain sebagai inferior, lebih rendah, nista dan sebagainya.
Etnosentrisme memiliki 2 tipe :
1.       Etnosentrisme Fleksibel
      Seseorang yang memiliki etnosentrisme ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas didasarkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.
2.       Etnosentrisme Infleksibe
      Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.

Contoh Etnosentrisme di Indonesia :
Salah satu contoh etnosentrisme di Indonesia adalah perilaku carok dalam masyarakat Madura. Menurut Latief Wiyata, carok adalah tindakan atau upaya pembunuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki apabila harga dirinya merasa terusik. Secara sepintas, konsep carok dianggap sebagai perilaku yang brutal dan tidak masuk akal. Hal itu terjadi apabila konsep carok dinilai dengan pandangan kebudayaan kelompok masyarakat lain yang beranggapan bahwa menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan dianggap tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Namun, bagi masyarakat Madura, harga diri merupakan konsep yang sakral dan harus selalu dijunjung tinggi dalam masyarakat. Oleh karena itu, terjadi perbedaan penafsiran mengenai masalah carok antara masyarakat Madura dan kelompok masyarakat lainnya karena tidak adanya pemahaman atas konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok tersebut dalam masyarakat Madura. Contoh etnosentrisme dalam menilai secara negatif konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok dalam masyarakat Madura tersebut telah banyak ditentang oleh para ahli ilmu sosial.

Contoh yang lain adalah:
kebiasaan memakai koteka bagi masyarakat papua pedalaman. Jika dipandang dari sudut masyarakat yang bukan warga papua pedalaman, memakai koteka mungkin adalah hal yang sangat memalukan. Tapi oleh warga pedalaman papua, memakai koteka dianggap sebagai suatu kewajaran, bahkan dianggap sebagai suatu kebanggan.

Kesimpulan
Prasangka, diskriminasi, dan etnosentrisme tidak baik untuk kita dan lingkungan kita. Sebaiknya kita menjauh dari perbuatan perbuatan seperti prasangka buruk, diskriminasi, etnosentrisme dan kita harus saling menghargai terhadap sesama.

Daftar Pustaka






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang menggunakan kata-kata kotor.

Teori Komputasional dan Implementasi Di Bidang Lain

  Pengertian Komputasi Komputasi sebetulnya bisa diartikan sebagai cara untuk menemukan pemecahan masalah dari data input dengan menggunakan...